Lima Kontroversi FIFA di Piala Dunia 2026, Ada Konser di Final
FIFA menuai kecaman keras setelah dituduh merusak tradisi, melanggar aturan hukum sepak bola, dan memeras penonton demi keuntungan komersial di Piala Dunia 2026.
Gianni Infantino berdiri di stadion dalam pergelaran Piala Dunia 2026
Konser Musik Melanggar Aturan Waktu Istirahat
FIFA berencana menggelar pertunjukan musik megah ala Super Bowl pada jeda babak pertama pertandingan final. Langkah ini memicu kontroversi karena memperpanjang durasi istirahat pemain hingga 30 menit. Hukum resmi sepak bola sendiri menyatakan waktu istirahat tidak boleh melebihi 15 menit.
Manajemen FIFA sengaja merahasiakan detail durasi ini karena menyadari protes keras dari para pencinta sepak bola. Sejumlah musisi besar seperti Madonna, Shakira, Coldplay, hingga Justin Bieber dijadwalkan tampil menghibur penonton. Gladi bersih pada Piala Dunia Antarklub tahun lalu bahkan memakan waktu hingga 25 menit.
Penghapusan Sanksi Kartu dan Pemerasan Tiket
Gianni Infantino secara sepihak membatalkan sanksi kartu merah untuk bintang besar seperti Cristiano Ronaldo dan Folarin Balogun. Keputusan ini menggunakan celah Pasal 27 dalam kode disiplin FIFA agar para pemain bintang tetap bisa berlaga demi rating televisi. Intervensi politik dari Donald Trump juga disebut memengaruhi keputusan pembebasan hukuman Balogun.
Selain masalah sanksi pemain, FIFA menerapkan sistem harga tiket fleksibel yang sangat mencekik kantong para suporter. Sistem baru ini menaikkan harga tiket rata-rata sebesar 34% pada 90 pertandingan dari total 104 laga. Pengacara publik New York dan New Jersey kini mulai melakukan investigasi resmi terkait dugaan penipuan harga tiket ini.
Daftar Pelanggaran Tradisi oleh FIFA
Kritik juga mengalir deras terkait aturan jeda minum atau hydration breaks yang dipaksakan saat cuaca dingin. FIFA dituduh sengaja membuat jeda buatan ini hanya untuk memberikan ruang iklan komersial bagi stasiun televisi penyiaran. Padahal aturan asli menyatakan jeda minum hanya boleh berlaku jika suhu udara berada di atas 32 derajat celsius.
Gianni Infantino membela keputusan jeda minum tersebut dengan dalih memberikan waktu bagi taktik pelatih. Pelatih tim bisa mengevaluasi situasi dan memperbaiki kesalahan pemain saat laga berhenti sejenak. Namun pengamat menilai sepak bola tetap milik pemain di lapangan dan bukan urusan penuh kendali pelatih.
Berbagai skandal komersialisasi ini memperlihatkan bahwa FIFA tidak lagi memedulikan nilai-nilai murni olahraga sepak bola. Akankah gelombang protes dari suporter dan investigasi hukum di Amerika Serikat mampu menghentikan keserakahan bisnis badan sepak bola dunia ini? Kita tunggu bagaimana akhir dari drama penegangan regulasi di turnamen akbar tahun ini.