Confederación Brasileña de Fútbol (CBF) mendadak menjadi sasaran amukan netizen di berbagai platform media sosial. Berdasarkan pantauan redaksi, gelombang protes ini dipicu oleh unggahan video institusional berdurasi satu menit yang bernada terlalu optimistis mengenai awal "siklus baru" menuju Piala Dunia 2030. Unggahan tersebut dinilai tidak peka terhadap situasi lantaran Timnas Brasil baru saja tersingkir secara memalukan di babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah ditekuk oleh Noruega pada 5 Juli lalu.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut laporan dari mundodeportivo.com, video yang dirilis oleh federasi tersebut menyertakan narasi emosional yang berupaya menenangkan para suporter. Pihak otoritas sepak bola Brasil itu menyatakan bahwa kekalahan terpaut sepekan lalu merupakan titik balik demi meraih gelar keenam. "Mari kita ingat hari ini: 5 Juli 2026. Hari di mana perjalanan kita berikutnya dimulai. Bukan hanya dengan bakat kita, tetapi dengan stabilitas, perencanaan, dan kerja keras yang lebih besar," ungkap narator dalam video tersebut yang justru memicu kemarahan mendalam dari publik.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, para pendukung Seleção langsung membanjiri kolom komentar dengan nada sinis dan kecaman. Banyak yang menilai para pemain saat ini lebih menyerupai pembuat konten digital ketimbang atlet profesional. "Banyak taruhan, banyak pemasaran, dan sedikit sepak bola," tulis salah satu netizen. Komentar lain yang senada juga muncul mengkritik performa tim, "Hari di mana kita memiliki pemain sungguhan dan bukan influencer di lapangan, kita akan percaya lagi." Kekecewaan kian mendalam mengingat rival abadi mereka, Argentina, justru berhasil melenggang ke babak semifinal.
Dari pantauan redaksi, kritik tidak hanya datang dari kalangan suporter biasa, melainkan juga dari mantan pemain legendaris seperti Romário. Juara dunia 1994 itu secara terbuka mengarahkan telunjuknya kepada sang manajer, Carlo Ancelotti, yang dianggap terlambat melakukan pergantian pemain serta gagal memberikan identitas permainan yang jelas bagi tim. Kritikan tajam juga mengarah pada lini tengah dan pertahanan yang dinilai sangat rapuh sepanjang turnamen berlangsung.
Situasi internal di kubu Brasil sendiri sejatinya sedang dalam masa transisi yang bergejolak. Sebelum gelaran Piala Dunia bergulir, CBF sebenarnya telah memperpanjang kontrak Carlo Ancelotti hingga tahun 2030 demi menjaga stabilitas tim. Menurut catatan pengamat, Timnas Brasil setidaknya telah berganti pelatih sebanyak lima kali sejak kegagalan di Catar 2022, ditambah dengan krisis politik internal organisasi yang sempat menyebabkan pencopotan mantan presiden federasi pada tahun 2025 lalu.